Berfikir Induktif

Berpikir Induktif

Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum



Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.

Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak. Karena itu sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara, Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis.

Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya, kemudian pada tahap pengujian hipotesis proses induksi mulai memegang peranan di mana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah suatu hipotesis di dukung fakta atau tidak. Sehingga kemudian hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak.
Maka dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif dan penalaanr induktif diperlukan dalam proses pencarian pengetahuan yang benar.

GENERALISASI

    Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagaian dari gejala serupa. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut dengan generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.


Macam-macam generalisasi :

Generalisasi sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi tidak sempurna
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.
Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
  1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
  2. Sampel harus bervariasi.
  3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.

HIPOTESIS DAN TEORI

hipotesis, yaitu suatu gagasan mengenai kaitan-kaitan suatu runtutan kejadian, atau hubungan sebab akibat. Kemampuan setiap ilmuwan amatlah berbeda-beda dalam melihat dan menjelaskan kaitan-kaitan ini, dan di sinilah letak keunggulan seorang ilmuwan jenius.

Peranan suatu hipotesis adalah menembus melalui data-data yang ada dan menempatkannya di dalam konteks baru yang lebih luas, sehingga dengan apa yang kita ketahui dapat menjelaskan hal yang tidak kita ketahui. Antara hipotesis dan teori sebenarnya tidak ada batasan yang jelas, tetapi pada umumnya suatu teori memberi kesan lebih banyak mengandung suatu kepastian dibanding suatu hipotesis. Teori adalah suatu gagasan mendasar yang mencoba menjelaskan fenomena yang diamati dan kaitan-kaitannya agar pengamatan dan hipotesis dibidang yang berlainan dapat disusun dalam suatu tatanan. Contohnya, teori evolusi merupakan suatu gagasan dasar di mana padanya terkumpul sejumlah pengamatan dan hipotesis dari bidang-bidang paleontologi, anatomi, fisiologi, biokimia,genetika, dan ilmu-ilmu lainnya.

Sebuah teori yang baik akan mengkorelasikan sejumlah fakta yang sebelumnya terpisah, menjadi suatu kesatuan yang masuk akan dan mudah dimengerti. Teori yang disusun berdasarkan fakta-fakta secara tepat akan menggambarkan kaitan-kaitan baru  antara fakta-fakta yang berdiri sendiri dan menyarankan percobaan dan pengamatan lanjutan yang dapat dilakukan untuk menguji kaitan-kaitan ini. Suatu teori yang baik harus sederhana dan tidak memerlukan bab-bab khusus untuk menjelaskan tiap fakta, harus lugas, dapat berkembang dan mengalami modifikasi sesuai dengan data baru yang didapatkan. Suatu teori tidak dapat ditinggalkan karena adanya suatu fakta tertentu yang bertentangan dengan teori itu, tetapi hal itu terjadi hanya karena suatu teori lain dapat menjelaskan lebih baik tentang fakta-fakta itu.

Sementara suatu hipotesis arus dapat diuji dengan suatu percobaan, artinya harus dapat membuat suatu ramalan yang dapat diuji dengan suatu cara. Kalau bukan demikian, artinya itu hanyalah sebuah spekulasi semata. Sebaliknya, bila dari suatu teori tidak dapat memunculkan suatu ramalan, maka teori tersebut berarti tidak lebih dari sebuah tebakan belaka.

Hasil berlainan dengan apa yang diramalkan oleh suatu hipotesis mendorong ilmuwan, setelah ia yakin akan kebenaran penemuannya, untuk membuang hipotesis itu atau mengubahnya agar sesuai dengan data lama dan data baru. Hipotesis-hipotesis selamanya mengalami perubahan dan perbaikan. Para ilmuwan tidak menganggap hipotesis sebagai sebuah kebenaran mutlak menyeluruh,tetapi hanya dianggap sebagai pendekatan kebenaran yang paling baik dalam keadaan-keadaan tertentu. Sejarahilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa meskipun sejumlah besar ilmuwan telah membuat penemuan-penemuan dengan mengikuti metode ilmiah yang ideal, tetap saja ada kejadian-kejadian yang telah menghasilkan teori penting yang berakibat jauh sebagai akibat kesimpulan yang tidak benar dan postulat yang salah atau akibat penafsiran yang salah dari percobaan-percobaan yang tidak terkontrol dengan baik. 

 ANALOGI

    Pada dasarnya analogi adalah perbandingan. Perbandingan selalu mengenai sekurang-kurangnya dua hal yang berlainan. Dari kedua hal yang berlainan itu dicari kesamaannya (bukan perbedaanya). Dari pengungkapannya, ada analogi sederhana serta mudah dipahami dan ada yang merupakan kias yang lebih sulit dipahami. Dari isinya, analogi dapat dibedakan sebagai analogi dekoratif dan analogi induktif.

  Analogi induktif merupakan analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.. Di dalam proses analogi induktif kita menarik kesimpulan tentang fakta yang baru berdasarkan persamaan ciri dengan sesuatu yang sudah dikenal. Kebenaran yang berlaku yang satu (lama) berlaku pula dengan yang lain (baru). Yang sangat penting dengan proses analogi induktf ialah bahwa persamaan yang digunakan sebagai dasar kesimpulan merupakan ciri utama (esensial) yang berhubungan erat dengan kesimpulan.

Contoh analogi :

   Secara tidak sengaja Amara mengetahui bahwa pensil Stedler 4B nya menghasilkan gambar vignette yang memuaskan hatinya. Pensil itu sangat lunak dan menghasilkan garis-garis hitam dan tebal. Maka selama bertahun-tahun ia selalu memakai pensil itu untuk membuat vignet. Tetapi, ketika ia belibur di rumah nenek di sebuah kota kecamatan ia kehabisan pensil. Ia mencari di toko-toko di sepanjang satu-satunya jalan raya di kota itu. Dimana-mana tidak ada. Akhirnya dari pada tidak mencoret-coret ia memilih merk lain yang sama lunaknya dengan Stedler 4B. “Ini tentu akan menghasilkan vignet yang bagus juga”, putusnya meghibur diri.

HUBUNGAN KASUAL 

Hubungan kausal adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Misalnya, jika hujan-hujanan, kita akan sakit kepala atau Rini pergi ke dokter karena ia sakit kepala. Ada tiga pola hubungan kausalitas, yaitu sebab-akibat, akibat-sebab, dan sebab-akibat 1 akibat 2.

Bentuk-bentuk hubungan kausal
a. Hubungan asimetris : ada dua hubungan variable,tetapi tidak ada mekanisme pengaruh mempengarui,masing-masing bersifat mandiri:
Contoh :
• Kebetulan : kenaikakan gaji dosen dengan turunnya hujan. sama-sama merupakan akibat dari factor(variable bebas) yang sama: hubungan antara tinggi badan dan berat badan,keduanya merupakan variabel tergantung dari variabel bebas pertumbuan.
• Indikator dari konsep yang sama : ubungan antara dua kekuatan kontraksi otot dengan kontraksi otot
b. hubungan simetris :korelasi antara dua variabel, dengan satu variabel(bebas) bersifat mempengaruhi variabel lain(tinggi kadar lipoprotein berat jenis benda dalam dara mengakibatkan aterosklerosis).
c. hubungan timbal balik: korelasi antara dua variabel saling mempengarui.
Contoh : korelasi antara malnutrisi dan mal absorsi